Pagi ini aku ingin sekali lebih memperhatikan apa yang ada di sekitar. Mungkin setiap rumput yang kutemui pasti akan kuperhatikan dengan seksama. Kamu tahu apa sebabnya? Penyebabnya cukup sederhana, yaitu karena tidak ada tebengan ke kantor. Hu hu hu hu….aku pun berjalan dengan santai dan tersenyum seolah menikmati semua ini.
Mungkin hingga seratus langkah, aku masih memperhatikan pinggiran jalan yang dipenuhi oleh ilalang. Untuk beberapa menit perhatianku masih pada ilalang yang tumbuh di pinggir jalan. Lalu tiba-tiba langkahku terhenti. Tidaaaaakkkkk! Ada katak yang tewas tepat diujung kakiku. Katak itu tewas secara mengenaskan. Sepertinya dia adalah korban tabrak lari. Huh, benar-benar manusia yang tak bertanggung jawab. Kalo dilihat dari kondisinya, kemungkinan besar ia terlindas oleh mobil. Tubuhnya gepeng….. Isi perutnya berceceran dimana-mana….. Hu hu hu….hiks menyedihkan sekali.
Otakku tak dapat membiarkan momen ini lari begitu saja. Di sepanjang perjalanan ke kantor, aku membuat skenario peristiwa terjadinya tabrak lari sang katak. Begini ceritanya.
Di sawah dekat komplek perumahan, hiduplah keluarga katak. Keluarga katak ini semakin gusar oleh suatu hal. Mereka semakin cemas akan keberadaan dan kelangsungan hidup anak cucunya nanti. Lahan sawah semakin berkurang. Padahal mereka akan terus berkembang biak. Mereka juga risau akan angka harapan hidup yang semakin kecil. Bayangkan saja. Semakin banyaknya perumahan dan kendaraan, semakin membuat polusi udara, tanah dan air bertambah. Mereka juga takut untuk melepaskan anak-anaknya bermain. Kalu lengah sedikit, anak-anak itu akan bermain ke jalan dan beresiko terjadi kecelakaan hingga tewas. Akhirnya mereka membuat suatu rencana untuk bermigrasi. Diutuslah satu katak dewasa berangkat mencari daerah baru. Keluarga katak pun mengantarnya hingga ke pinggir jalan. Katak tua pun memberi nasehat kepada katak muda,”Hati-hati di jalan. Apalagi waktu menyeberang jalan. Jalan lupa tengok kiri dan kananmu”. Katak muda bingung karena sang katak muda ini tak punya leher sehingga tidak bisa menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Setelah mengucapkan salam perpisahan dia pun meyeberang jalan. Tanpa dia sadari mobil kijang berplat merah melaju dengan kencang dari sebelah kirinya. Dan………dia pun terlindas hingga gepeng layaknya rempeyek basah. Keluarga katak pun menangis histeris menyaksikan kejadian tragis ini. Huu…hu…hu…katak yang malang. Keluarga katak pun membiarkan jasadnya tetap berada di jalan hingga kering. Mungkin bisa dijadikan monumen peringatan. Yup, peringatan untuk katak kecil agar tak bermain di jalan. Mungkin juga peringatan bagi manusia untuk lebih berhati-hati di jalan.
Sepertinya monumen itu tidak terlalu berguna. Karena seminggu kemudian, aku melihat seekor katak dewasa yang lebih gemuk mati karena terlindas. Sepertinya katak yang tewas itu hampir saja berhasil menyeberangi jalan. Sedikit lagi. Namun karena merasa senang melewati tantangan tersebut, dia melompat-lompat kesenangan hingga lupa diri. dan akhirnya……yah anda tahu sendiri..
Ck..ck..ck keluarga katak yang malang
Inilah kerjaanku untuk mengisi kekosongan