Di sebuah negeri yang tandus, hiduplah seorang pemuda yang sangat baik hati. Dengan kesabarannya, dia mampu menumbuhkan ladang yang subur. Apabila waktu panen telah datang, dia tak sungkan-sungkan membagikan sedikit rizkinya kepada orang lain yang membutuhkannya.
Suatu hari, ada seorang pengembara dari negeri nan subur datang. Melihat suatu keanehan, dia menghentikan langkahnya di sebuah ladang. Tepat di depannya pula sang pemuda baik hati sedang memanen hasil ladangnya. Melihat ada seseorang yang sedang memperhatikannya, pemuda baik hati itu menghentikan pekerjaannya. Lalu dia mendekati sang pengembara. Sambil tersenyum pemuda itu pun menyapanya
“Ada apa gerangan tuan datang kemari?”
“Oh, saya tak bermaksud datang ke negri yang begitu menyedihkan ini. Secara
kebetulan saja saya lewat ke negeri tuan.”
“Sepertinya tuan hendak ke negeri seberang. Bersediakah tuan mampir sebentar untuk menikmati buah yang baru saya panen tadi”
“Baiklah. Sekalian saya ingin beristirahat sebentar”
Sang pengembara pun duduk di tikar yang digelar di pinggir ladang. Sang pemuda baik hati pun mengambil hasil panennya lalu mengupasnya. Ditaruhnya buah tadi di piring daun dan menawarkannya pada sang pengembara. Sambil menikmati hidangan, sang pengembara lalu memulai pembicaraan
“Sungguh negeri yang menyedihkan ya. Negeri yang gersang. Tapi kamu cukup beruntung bisa mendapatkan ladang yang cukup subur. Ladang seperti yang kamu punya ini banyak yang memilikinya di negeriku. Bahkan jauh lebih luas. Pohon tumbuh dengan subur dan hijau. Kalau dilihat dari puncak bukit maka akan tampak permadani hijau yang luas.”
Pemuda baik itu hanya tersenyum mendengarkan ucapan sang pengembara. Sambil menyomot potongan buah berikutnya, pengembara kembali berkata.
“Apa kamu tidak bosan di negeri yang seperti ini? Pindah saja ke negeriku, di sana kamu pasti akan menyesal telah menguras tenaga di negeri ini. Di sana tanpa perlu bekerja hingga keringat mengalir deras, ladangmu akan menghasilkan buah yang banyak.”
“Tuan, saya cukup bersyukur tinggal di negeri ini.”
“Bersyukur? Kamu belum pernah tinggal di negeriku kan? Kamu pasti akan menyesal mengucapkannya.”
“Jika diperkenankan, bolehkah saya tahu alasan anda mampir ke negeri ini? Padahal tuan telah merasa nyaman di negeri yang tuan banggakan itu?”
“Aku hanya ingin membandingkan kondisi negeriku dengan negeri kalian. Betapa beruntungnya negeri kami.”
“Saya pernah besar di negeri tuan. Memang negeri yang sangat indah. Tapi bukankah hidup ini seperti tak ada gunanya kalau tidak pernah ada usaha yang lebih. Di sini saya senang dapat membantu yang lain. semua yang kami makan terasa lebih enak, bahkan jauh jauh lebih enak dibanding yang pernah saya dapat di negerimu itu. “
Sang pengembara pun akhirnya tak dapat berkata-kata lagi. Dia pun pamit setelah menghabiskan seluruh hidangan yang ada. “Memang jauh lebih nikmat dibanding yang ada di negeriku”, katanya dalam hati